Membaca bukan sekadar menuntaskan halaman, tetapi berdialog dengan penulisnya. Melanjutkan bedah buku “How to Read a Book” karya Mortimer Adler, program podcast Di Balik Sampul dari Universitas Bakrie Press kembali hadir. Di episode kedua ini, host Ari Kurnia bersama narasumber Guson P. Kuntarto mengupas tuntas dua level membaca tertinggi: Analytical dan Syntopical Reading.
Hadirnya podcast edukatif yang dapat diakses secara terbuka ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan wujud nyata komitmen Universitas Bakrie Press dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas).
Analytical Reading: Melakukan “X-Ray” pada Naskah Di tahap ini, pembaca tidak sekadar melakukan skimming, tetapi dituntut membongkar struktur atau “tulang punggung” buku. Aturan emasnya: pahami sebelum menghakimi. Pembaca harus mampu menangkap argumen penulis dan menahan diri dari kritik terburu-buru (suspend judgment) sampai benar-benar memahaminya secara utuh.
Kemampuan bernalar kritis yang diajarkan pada tahap ini sangat sejalan dengan Target SDG 4.6 (Universal Literacy and Numeracy). Di era modern, literasi bagi generasi muda dan orang dewasa tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan mengeja huruf atau membaca dasar, melainkan literasi tingkat lanjut yakni kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyerap informasi secara kritis agar terhindar dari misinformasi.
Syntopical Reading: Membandingkan Banyak Literatur Ini adalah level membaca tertinggi yang sangat esensial bagi peneliti. Pada tahap ini, pembaca membedah dan membandingkan (compare and contrast) berbagai referensi dengan tema serupa. Tujuannya bukan sekadar memahami isi tiap buku, melainkan untuk merumuskan istilah netral dan melahirkan gagasan atau hipotesis baru dari berbagai sudut pandang.
Penguasaan keterampilan meneliti yang kompleks ini merupakan instrumen penting di bangku perkuliahan. Melalui diseminasi pengetahuan gratis lewat podcast, Universitas Bakrie Press turut andil dalam mewujudkan Target SDG 4.3 (Equal Access to Affordable and Quality Tertiary Education). Kami berupaya memastikan bahwa materi pendukung keterampilan riset tingkat universitas seperti seni membaca literatur dapat diakses secara setara, terjangkau, dan berkualitas oleh seluruh civitas akademika maupun masyarakat umum (laki-laki maupun perempuan).
Membaca untuk Menulis Seperti yang ditegaskan Adler di penghujung materi, membaca dan menulis adalah proses timbal balik yang resiprokal. Rutin membaca literatur yang berbobot (good books) otomatis akan menajamkan kemampuan penalaran dan menulis Anda.
Kalau kamu ingin naik level dari sekadar “tahu” menjadi benar-benar “paham” sekaligus menjadi bagian dari generasi dengan tingkat literasi yang mumpuni, video ini wajib kamu tonton sampai habis!
Follow our other socials at:
Instagram: @press.ubakrie
Website: ubakriepress.bakrieuniversity.ac.id
Email: [email protected]





